Sabtu, 15 Desember 2012

Menjadi TKI Sukses

Menyesal itu akan datang belakangan, begitulah orang tua kita ketika menasehati anak-anaknya kata-kata ini pula yang selalu terngiang ditelinga mengingatkan almarhum ayah saya ketika pertama kali saya mengutarakan keninginan saya bahwa akan merantau ke Kalimantan, Bagus, Laki-laki seperti itu, Rasulullah saja hijrah dari Makkah ke Yasrib (sekarang Madinah), tentu harapannya adalah ingin ditempat hijrah, merantau kehidupan kita bisa lebih baik daripada yang dijalani sekrang.
Begitu pula ketika seseorang telah membulatkan tekadnya dan memutuskan untuk melakukan hijrah, sekarang mungkin menjadi Tenaga Keja Indonesia (TKI) ke luar negeri, banyak yang sukses (itulah harapan semua orang) namun tidak sedikit juga yang tidak lebih baik dari kehidupan sebelum menjadi TKI, apa masalahnya ? kan gaji di luar negeri jauh lebih besar dibanding dengan pendapatan di dalam negeri ? mungkin iya mungkin juga tidak, secara nominal diatas kertas bisa saja memang lebih besar namun jika kita harus membayar tempat tinggal (mes) sendiri, makan sendiri, transport sendiri (tidak ditanggung pihak pengguna) maka uang gaji bulanan akan habis oleh biaya-biaya tersebut, belum biaya-biaya lainnya.
Gaji atau upah kita bekerja terbilang tinggi, biaya hidup (makan, tempat tinggal, transport) ditanggung perusahaan  namun gaya hidup kita tidak di ‘manage’ dengan baik, kita juga tidak akan mendapatkan apa-apa justru yang ada kita mengalami kerugian yang sangat besar, yup…. Terutama Rugi waktu, karena telah melakukan tindakan yang hanya membuang-buang waktu saja, Rugi kesempatan, yup …. Karena belum tentu kita bisa kembali lagi dan mendapatkan kesempatan yang baik itu mungkin saja dibatasi oleh peraturan/kebijakan disetiap negara, pepatah mengatakan bahwa ‘kesempatan itu tidak akan datang dua kali’.
Kejadian inilah yang sering saya dapati ketika bertugas di Korea Selatan antara tahun 1999-2002, sebagai tenaga konsultan dari salah satu perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (pjtki), ketika penempatan TKI masih dilaksanakan oleh swasta bekerja sama dengan KFSB di pihak Korea Selatan. Ketika di bandara mereka kadang sampai menangis, saya piker haru karena akan segera bertemu sanak keluarga di kampong halaman tercinta, ternyata saya keliru, setelah ditanya ternyata mereka Menyesal, karena telah mengikuti Gaya hidup orang sini, dengan berprilaku konsumtif, membeli pakaian yang mahal-mahal, sering pesta-pesta, dll.
Semoga tulisan ini menjadi renungan bagi anda yang berniat menjadi TKI di luar negeri, dimana saja apakah di Korea Selatan, Eropa, Taiwan dll. Selamat Bekerja, Merantaulah dengan niat yang tulus untuk merubah nasib, dan ingat Negara yang anda tuju adalah hanya seperti persinggahan saja, kehidupan yang sebenarnya adalah kampung halaman dimana anda dilahirkan dan tempat berkumpulnya sanak saudara, orang tua, istri dan anak-anak, sanak family. Mereka mengharapkan anda kembali dengan gagah dan kepala tegak, bukan tertunduk lesu membawa sejuta penyesalan dan malu.

4 komentar:

  1. Wah .... sangat berarti petuahnya.... tks

    BalasHapus
  2. Kerja keras, kerja cerdas, Berhemat.... kunci keberhasilan ....yup...thanks wejangannya...

    BalasHapus